Pages

Showing posts with label Serba-Serbi Madiun. Show all posts
Showing posts with label Serba-Serbi Madiun. Show all posts

Thursday, December 13, 2012

Lempeng Puli Madiun

Lempeng Puli/Krupuk Puli adalah salah satu makanan khas Madiun, Lempeng atau kerupuk ini terbuat dari beras yang di masak menjadi nasi dan kemudian di proses menjadi puli.

Proses pembuatan Lempeng Puli dimulai dengan menanak beras yang sebelumnya sudah di cuci bersih dahulu, selagi menunggu berasnya matang kita dapat meniapkan bumbu-bumbu yang digunakan untuk memberi rasa pada Lempeng Puli tersebut diantaranya bawang, garam, dan ketumbar.

Setelah beras matang dan menjadi nasi kemudian di tumbuk bersama bumbu-bumbu yang sudah di siapkan. jangan lupa memberi alas plastik pada alu agar tidak lengket saat proses penumbukan. Setelah nasi dan bumbu tercampur rata atau menjadi puli, puli di padatkan dan didinginkan semalan agar mudah dlam proses pengirisan. Setelah puli dingin puli di potong tipis-tipis secara horisontal agar tebalnya sama. Sebelum mengiris jangan lupa olesi pisau dan permukaan puli yang akan diris dengan minyak agar tidak lengket, ini dilakukan saat ingin membuat irisan baru agar tidak lengket saat di tata di tampah (anyaman bambu) untuk di jemur. Kemudian puli di keringkan dengan cara di jemur, proses penjemuran kurang lebih memakan waktu dua hari, tergantung kondisi cuaca.

Setelah kering lempeng puli siap dinikmati dengan cara di goreng terlebih dahulu.

Lempeng/Krupuk Puli Mentah

Lempeng/Krupuk Puli Matang

Referensi:

Foto:

Medioen Tempo Doeloe

Khusus wong Mediun sing pengen roh Mediun Tempo Doeloe, iso ndelok poto-potone nang kene. Tapi sing dudu wong Mediun lek pengen ngertos Mediun Tempo Doeloe , nggeh pareng. :-)
(Khusus orang Madiun yang pengen tahu Madiuntempo dulu, bisa lihat foto-fotonya disini. tapi yang bukan orang Madiun kalau pengen tahu Madiun Tempo Dulu, juga boleh. :-))

Toko Langgeng 1910

Madiun 1910

Sarangan 1910

Alon-Alon Madiun 1919

Wednesday, December 12, 2012

Brem Madiun

Brem adalah jajanan khas Madiun, brem terbuat dari beras ketan putih yang di haluskan dan difermentasikan. Brem mempunyai rasa yang manis atau manis keasaman dan lembut di mulut, jika brem dimakan akan langsung lumer dan sensasinya "mak nyes....!!!!!!!". Para pengrajin brem sekarang semakin kreatif, saat ini brem mempunyai banyak pilihan rasa seperti coklat, strawbery, melon dan sebagainya. 

Foto: Pengrajin & Proses Produksi Brem

Foto: Brem yang Sudah Jadi

Berikut cara membuat brem dari madiun:
  1. Beras ketan dicuci sampai bersih dan kemudian direndam.
  2. Setelah beras ketan direndam kemudian dikukus selama kurang lebih 1 jam. Angakat.
  3. Proses selanjutnya adalah peragian atau fermentasi selama kurang lebih 7 hari. 
  4. Kemudian proses pemekatan atau pengepresan untuk mendapatkan sari tape. 
  5. Langkah terakhir adalah pengadukan yang bertujuan untuk mendapatkan kristal kristal yang akan membentuk brem.
Jadi teman-teman yang kebetulan melancong ke Madiun jangan lupa membeli brem khas Madiun untuk oleh-oleh keluarga, kerabat dan teman-teman. Brem banyak tersedia di pusat oleh-oleh khas Madiun.


Monday, December 10, 2012

Wana Wisata Grape

Wana Wisata Grape terletak di kaki Gunung Wilis, jarak lokasi wisata dari pusat kota Madiun kurang lebih 15km. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Wana Wisata Grape pada akhir pekan, pemandangan yang indah dan udara yang sejuk menjadi daya terik wisatawan. Selama perjalanan kesana kita akan disuguhi oleh pemandangan hamparan sawah yang hijau dan masih banyak pepohonan yang menambah sejuk penglihatan kita. 

Ketika sampai di lokasi, kita akan dimanjakan oleh pemandangan hutan yang masih lebat dan sawah  berbentuk tersering yang sangat menawan, selain itu ada juga sungai yang mengalir dengan air yang jernih dan dingin. Wana Wisata Grape juga terdapat fasilitas seperti pendopo, wahana bermain, toilet dan warung-warung yang berkonsep lesehan yang berjualan makanan dan minuman seperti bakso, mie ayam, nasi pecel, nasi urap, wader goreng dan lain-lain, selain warung ada juga pedagang keliling yang berjualan disitu.



Wana Wisata Grape juga sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan oleh pelajar untuk acara kemah, outbound, hiking, dan kegiatan lainnya. Selain itu Grape juga digunakan sebagai wahana konservasi hutan, pepohonan rimba yang langka dan berusia tua masih terawat dengan baik disana  pohon mahoni, sengon, flamboyan, dawung, pete, hingga pohon nangka. Tidak hanya itu, kawasan itu juga dijadikan tempat pembibitan aneka bibit pohon rimba liar. 


Jadi yang bosan dengan suasana perkotaan yang panas dan penuh polusi Wana Wisata Grape cocok untuk menjadi salah satu destinasi kunjungan wisata anda.  


Thursday, December 6, 2012

Yang khas dari Madiun

Postingan saya kali ini tentang Ciri khas dari Madiun, Sebagian besar postingan saya hasil CoPast dari blog lain yang sudah saya sadur. 


"Selamat Membaca"

Bahasa Jawa Madiun dipergunakan di daerah Jawa Timur Mataraman (perbatasan Jawa Tengah bagian tengah dan selatan). Daerah kadipaten Mediyun atau yang sekarang eks Karesidenan Madiun yakni kota Madiun, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Pacitan semuanya dalam wilayah propinsi Jawa Timur. Namun sebelum proklamasi RI, termasuk kesultanan Mataram (Jogja/Solo), maka dialek Madiun itu lebih dekat dengan dialek Jawa Tengah ketimbang dialek Jawa Timur Surabaya. Dibanding dialek Jawa Tengah, ciri utamanya adalah dalam intonasi.

Orang Madiun sering memberi tekanan pada suku kata pertama,
contohnya: "bocah kok kurang ajar banget" diucapkan "byuh, byuh... buocah kok kuorang ajar men".
"adoh banget" diucapkan "u.....adoh buanget", 
GUOMBAL, UUDELMU, UADUH UAYUNÉ, UADUH BUAGUSÉ, BUIYUNG MRONGOSÉ, LAGÈK MUMET, LAGÈK MLARAT, LAGÈK NYIDAM, BAR BLÉLÈKEN, dll.

Namun ada kata-kata yang menjadi ciri dialek Madiun:
Gong, Dong (Ponorogo, Pacitan) = belum
Mboyak = Mbok Bèn = terserah aku/kamu, 
Eram, Jègèg = hebat 
Jingklong = nyamuk
Edhuk = enak, 
Keenakan engkè = maeng = tadi men = nemen = sekali 
Byuh... byuh = jika kaget ataupun heran
Mudheng = ngerti =tahu
Cegeh (Ponorogo) = benci 

Wednesday, December 5, 2012

Air Terjun Kedung Malem

Air terjun Kedung Malem terletak di Dusun Seweru Desa Kare Kec.Kare di wilayah perkebunan kopi kandangan , berjarak 15 Km ke Timur dari kota Madiun. Air Terjun Selampir (nama lain dari air terjun Kedung Malem) merupakan salah satu obyek wisata alam andalan Kabupaten Madiun.
Foto: Patung 

Nasi Pecel Madiun

Rasa kangenku dengan kampung halaman sudah tak terbendung lagi, aku adalah anak perantauan yang berasal dari Madiun. Selama satu tahun aku belum pulang sama sekali. mumpung ada libur panjang kusempatkan diriku untuk pulang mengunjungi kampung halamanku Desa Banjarsari Wetan, Dagangan, Madiun. 

Setibanya di Madiun, aku sungkem dengan bapak ibuku dan melepas kangen dengan adikku. Selain itu ada satu lagi yang ku rindukan, yaitu nasi pecel.

Nasi Pecel, pasti tak asing lagi dengan nama itu. Ya...!!!!! Nasi Pecel merupakan makanan terkenal khas Madiun. Makanan yang terbuat dari campuran sayur-sayuran seperti bayam, kangkung, ganteng (kecambah), kemangi, mentimun yang disiram dengan sambel pecel dan di tambah dengan renyahnya rempeyek yang dihidangkan di sepincuk daun pisang menambah nikmatnya nasi pecel saya. 

Nasi pecel nikmat untuk sarapan pagi, makan siang maupun makan malam. Saya sendri yang asli orang Madiun belum pernah bosan yang namanya sarapan nasi pecel. Itulah mengapa pecel Madiun menjadi raja di rumah sendiri. 

Tuesday, December 4, 2012

Sepincuk tentang Medioen

Foto: Madiun Kota Gadis

Sebagai putra daerah asli Kota Pecel dan Kota Pendekar alias Madiun, saya ingin sedikit berbagi tentang Madiun. Madiun adalah sebuah daerah yang terdiri dari Kabupaten dan Kota, Madiun juga sebagai Kota Karisidenan yang meliputi Magetan, Ponorogo, Pacitan dan Ngawi. 

Berikut sejarah Madiun yang saya copast dari wikipedia.org. Madiun ditinjau dari pemerintahan yang sah, berdiri pada tanggal paro terang, bulan Muharam, tahun 1568 Masehi tepatnya jatuh hari Kamis Kliwon tanggal 18 Juli 1568 /Jumat Legi tanggal 15 Suro 1487 Be - Jawa Islam.

Berawal pada masa Kesultanan Demak, yang ditandai dengan perkawinan putra mahkota Demak Pangeran Surya Patiunus dengan Raden AyuRetno Lembah putri dari Pangeran Adipati Gugur yang berkuasa di Ngurawan, Dolopo. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Ngurawan ke desaSogaten dengan nama baru Purabaya (sekarang Madiun). Pangeran Surya Patiunus menduduki kesultanan hingga tahun 1521 dan diteruskan oleh Kyai Rekso Gati. (Sogaten = tempat Rekso Gati)

Blog Archive

Kategori

ASEAN Blogger